Demi Tuhan

     



     Tulisan ini merupakan karangan fiksi dimana seorang anak yang masih belia mencari tentang eksistensial Tuhan. Narasi ini dibuat menggunakan pendekatan kritis dengan memberikan wujud visual menggunakan cerita antara seorang murid dan gurunya.

  

   

“Dimana letak Tuhan?”

   

    

     Mula cerita ada seorang anak belia bernama Ali, ia sangat ia pintar dalam bidang sains tetapi ia sangat jauh dari nama agama. Suatu saat ia ingin tahu mengenai keberadaan spiritual roh maha kuasa yang disebut Tuhan. Tetapi ia tak pernah menjumpai bentuk fisik-Nya, Ia sudah mencari ke seluruh sudut bumi tak kunjung ditemui, ia juga sudah bertanya para ahli juga tak ada yang mengetahui. Sampai tiba dimana ia bertemu seorang ustadz bernama Gofar, Ustadz Gofar mengajarinya tentang keberadaan Tuhan yang sebenarnya.

 

"Begini illustrasinya."

 

 

 

BAB I

          Dalam pagi yang bingung Ali terbangun dari tidurnya, jam weker diatas sebuah lemari buffet memarahinya dengan dering berkala. Pukul 04.38 adzan berkumandang, tumbenya ia terfikir untuk melakukan sembayang subuh. Seusai berdoa ia bertemu seorang ustadz bersama Gofar, "ustadz, nama saya Ali, boleh kita berbicara?" ujar Ali, dengan rendah hati ustadz Gofar pun menerima tawarannya. Ali membuka obrolan dengan pertanyaan yang seksi "Tuhan itu ada tidak tad?", ustadz pun memberikan dua opsi pertanyaan, " Bisa ada bisa juga tidak, tergantung yang bertanya mau membuka hatinya atau tidak, percuma jika saya menjelaskan panjang lebar kepada orang yang sudah mati hatinya" Kata ustadz. "Saya jelas ingin mencarinya tad" Kata Ali, ustadz dengan nada yang sabar menjabarkan "Tuhan itu tak perlu dicari Ali, Tuhan itu lebih dekat dengan manusia lebih dari nadinya", Ali pun semakin bingung dengan Tuhan.

   

   

          Sesampainya dirumah Ali membuka sebuah buku berjudul "The story of God" karya Karen Amstrong, dalam halaman pertama ia menemukan kalimat "Tuhan adalah figur kabur yang ditangkap melalui abstraksi intelektual", didalam hatinya Ali bertanya "Apakah manusia menciptakan Tuhannya?". Ali semakin gila karena ia tak puas dengan jawaban dari buku  karya Karen Amstrong. Ia pun berusaha mencari kembali ustadz Gofar, Ali berfikir ustadz Gofar adalah salah satu jalan untuk membantunya menemukan Tuhan. Ali berencana kembali lagi ke masjid untuk berbincang banyak tentang Tuhan dengan ustadz Gofar tetapi pada jam solat dzuhur, ashar, magrib, dan isya, ia tak menjumpainya.
Akhirnya ia berfikir untuk tidak bergadang agar ia bisa bangun diwaktu subuh, ia memasang alarmnya 15 menit sebelum adzan subuh berkumandang.

 

   

  

BAB II

          Alarm lagi-lagi menampar telinganya, ia bangun dengan terburu-buru menuju masjid dekat rumahnya. Kagetnya ia melihat ustadz Gofar telah tiba didalam masjid, Ali melihatnya sedang sembayang tetapi ia tak tahu ustadz Gofar sedang mengerjakan ibadah apa, "ustadz tadi ngapain?" tanya Ali seusai ustadz Gofar keluar dari solatnya, "Itu namanya solat tahajud li, solat tahajud itu solat yang doanya paling diijabah oleh Tuhan" kata ustadz. "Tuhan emang hobinya nyusahin hambanya ya tad, kenapa kita perlu perbanyak solat, kan beriman pada-Nya juga sudah cukup" kata Ali, ustadz Gofar menggelngkan kepalanya "Ali kamu punya pacar ga?" tanya ustadz, "punya tad" kata Ali, "Apakah Cinta aja cukup kepada pacar mu tanpa berbuat sesuatu? Pastinya kamu lakukan yang terbaik kan pada pacarmu?", kata ustadz. Ali pun malu mendengar nasihat ustadz "tapi kan tad...", "Tuhan itu ngasih nafas gratis, Ia hanya meminta hambanya taat aja cukup kok" kata ustadz. Adzan subuh pun memisahkan obrolan mereka "Sudah kamu petang ini ke rumah saya, dekat kok lima rumah sebelum masjid rumah saya berwarna hijau dengan pagar putih didepannya" kata ustadz. Obrolan pun berakhir, mereka bergegas menunaikan ibadah solat subuh.

    

   

          Petangnya Ali menuju rumah ustadz Gofar, "Assalamu'alaikum, ustadz", ustadz pun mengajak nya masuk kedalam rumahnya. Obrolan terbuka disebuah teras kecil rumah ustadz Gofar. Tanpa basa-basi Ali pun bertanya, "Dimana letak Tuhan?", "kamu punya hati ga li?" tanya ustadz, "punya tad" jawab Ali, "Kok kamu tau, kan kamu tidak bisa ngeliatnya?" tanya ustadz, "Saya tau sebab saya mempelajari tentang anatomi tubuh manusia disekolah" jawab Ali, "Sama seperti hatimu, Tuhan dapat kau jumpai ketika kau membuka hati dan fikiran mu terhadap-Nya", kata ustadz. Ali kehabisan kata-kata dengan analogi yang diberikan ustadz Gofar "lantas?", "Kamu tak akan pernah melihat rupa fisik Tuhan, tetapi kamu dapat merasakannya" kata ustadz. Setengah kebingungannya pun terjawab, tetapi Ali masih kurang puas terhadap jawaban ustadz. Diakhir pembicaraan ustadz Gofar memberi pesan kepada Ali "perbaiki solatmu!".

  

    

  

BAB III

           Setelah lima bulan menunaikan ibadah solat tanpa bolong satupun Ali merasakan keanehan, ia merasakan kenyamanan yang tak bisa dijelaskan dengan lisan atau tulisan. Pada saat itu ia menjadi seorang yang agamis yang ekstrim. Saking kecanduannya Ali sampai menambahkan porsi ibadahnya.

  

  

          Ustadz Gofar bertemu dengan Ali disebuah Masjid tempat mereka pertama kali jumpa, "subhanallah Ali ini kamu?" tanya ustadz kaget melihat penampilan Ali yang sangat berbeda dengan pertama kali mereka jumpa, Ali memakai gamis ditambah sorban dikepalanya, Ali juga tak lupa membawa tasbih digenggamannya. "Iya dong tad, saya sekarang jadi orang soleh, saya menunaikan solat kadang 8 waktu kadang 6 waktu, saya juga tak lupa berzikir disetiap nafas" Ali memamerkan keuletannya dalam beragama. "Astaghfirullah Ali, agama itu harus sesuai porsi kalau kurang kamu bisa menambahnya dengan sunnah, bukan sembarangan seperti itu" ujar ustadz, "kenapa begitu tad?" tanya Ali, "agama itu sesuai porsi tidak boleh ditambah dan tidak boleh dikurang" ujar ustadz, "saya semakin bingung dengan agama, padahal saya berniat beriman secara penuh kepada Tuhan" kata Ali. "Ali, hal yang berlebihan itu tidak baik, termasuk iman mu, iman harus sejajar dengan akal. Apakah jika kamu dipatuk seekor ular kamu akan menyembuhkannya dengan doa? Keimanan itu menuntut seorang untuk berfikir sebelum beriman" Tegas ustadz Gofar. Ali pun pulang dan merenungkan masukan dari ustadz Gofar.

  

  

Disclaimer :
     Sebelum ditemukan huruf kita membaca situasi, setelah ditemukan huruf kita membaca puisi. Firman harian bukan kalimat motivasi, bukan juga kalimat tersinggung. Sangat sulit mengklasifikasikan teks kepada manusia yang sering salah konteks. Teks ini saya buat tanpa ada niat untuk menyakiti, jika merasa terhina mungkin kepala yang berusaha menciptakannya.

Komentar