Black Label





      Ini adalah sebuah narasi fiksi mengenai isu toxic terhadap gender. Apakah seorang lelaki harus berpenampilan dan berprilaku gagah agar memenuhi standar maskulinitas? Apakah perempuan harus terlihat anggun untuk memenuhi standar feminitas?, Stereotipe membuat seorang gagal paham dalam berbicara standarisasi penilaian.

 

   




  

“Bagaimana cara menjadi manusia yang utuh dimata gendernya?”

   

  




   

     Penulis akan mengilustrasikan cerita menggunakan sepotong kisah dari dua anak muda yang meiliki latar belakang prilaku yang berbeda, dimana ada seorang pria tulen bertemu dan belajar banyak dari wanita tomboy. Mereka dipertemukan oleh ketidaksengajaan.

    

  





“Jadi seperti apa illustrasinya?”














BAB I

          Nara adalah seorang pria feminim, mungkin karena ia sering bergaul dengan wanita semasa ia sekolah. Tak hanya disekolah diluar sekolah pun ia memiliki sirkel pertemanan mayoritas wanita. Benar bahwa Nara berteman baik dengan wanita tetapi ia tak suka merias tubuh layaknya seorang wanita, sebab ibu nya mengajarkan tentang kodrat gender seorang pria "Kamu boleh bermain dengan perempuan, tetapi lihatlah dirimu!", Ibunya selalu menegaskan hal itu padanya sebab tak ada lagi seseorang yang mengingatkannya selain ibunya, Ayahnya meninggalkan ibunya saat Nara masih duduk di bangku sekolah dasar. Jadi Nara tumbuh dari kasih sayang dan kelembutan ibunya.

  

  




  

          Berbeda dengan Nara, Melanie adalah seorang wanita tomboy yang memiliki hobi kick boxing. Semasa ia sekolah ia kerap kali berkelahi dengan anak laki-laki. Ayahnya mendidiknya keras, "Sebagai wanita kamu tidak boleh direndahkan oleh kaum laki-laki", itu yang selalu ayahnya katakan padanya. Bertolak belakang dengan Nara, Melanie lebih suka bergaul dengan pria entah itu dilingkungan sekolah ataupun rumah. Bukannya Melanie tak mau bergaul dengan wanita tetapi ia merasa bahwa aktivitas yang dilakukan seorang wanita sangat membosankan.

  

  

  









BAB II

          Pada suatu hari Melanie melihat aksi pemalakan yang dilakukan kaka kelasnya di SMA,  Melanie mencoba membela seorang pria yang menjadi korban. Mereka pun geram oleh tingkah sok heroik Melanie, tanpa pikir panjang mereka mengeroyok Melanie. Siapa disangka Melanie bisa mengalahkan 3 kaka kelasnya yang berupaya mengeroyok nya. Salah satu kaka kelasnya merupakan anak dari wakasek di SMA nya, ia melapor bahwa Melanie telah membully ia dan teman-temannya.

    

    





    

          Melanie dipanggil ke ruang BP setelah bel pulang sekolah berbunyi, Ia diinterogasi mengenai tindakan bully yang dilakukannya pada jam istirahat. "Saya berusaha menolong teman saya yang sedang dipalak oleh mereka bertiga bu" tegas Melanie kepada gurunya. Guru BP tak percaya kepada Melanie, sebab tak ada luka sedikit pun pada tubuh Melanie sedang kaka kelasnya yang mengeroyok nya malah babak belur. Melanie sudah menjelaskan panjang lebar mengenai kejadian asli yang menimpa nya tetapi argumennya tak cukup kuat untuk membelanya. Mau tidak mau Melanie harus memanggil orang tuanya besok lusa ke sekolah.

  

  





          Sesampainya dirumah ia menangis dikamar dan berusaha meluapkan kekesalan dengan meninju samsak yang menggantung disudut kamarnya. Melanie pun menenangkan keadaan dengan membakar sebatang rokok dan menyalakan musik. Ia biasa menemani patah hatinya dengan koleksi musik rock alternatif dalam sebuah playlist yang diberi nama "chaos anthem". Melanie merasa membakar sebatang rokok dan mendengarkan musik tak dapat membuat sedihnya hilang, tetapi ia merasa sedihnya lebih baik. Memang ia terlihat tomboy tetapi sekalinya ia sakit hati berbagai obat tidak mudah menyembuhkan lukanya, obat hanya membuat lukanya terlihat laten.

  

  





          Keesokan lusanya Melanie dipanggil ke ruang BP bersama orang tuanya. Ayahnya sangat marah padanya, sebab ayahnya mengajarkan bela diri untuk menjaga diri dan membela kebenaran tetapi Melanie malah menggunakannya untuk kekerasan. Melanie pun kecewa dengan respon ayahnya yang tak percaya padanya, Ia keluar ruang BP dengat raut amarah. Melanie sangat kecewa sebab tak ada yang satu orang pun yang mempercayai nya termasuk teman-teman tongkrongannya. Pada saat itu Melanie tak mau mempercayai seorang pun.

  

  





          Sepulang sekolah Melanie berjalan menuju sebuah taman, ditengah jalan ia menendang kaleng soda dan mengarah ke kepala Nara. Nara menangis tersedu akibat perbuatan Melanie, Melanie pun meminta maaf "maaf yaa tadi gue gak sengaja, lagian lo cengeng banget cuma kaya gitu aja nangis". Nara pun semakin kencang tangisannya karena ejekan Melanie. Melanie mengobati Nara dengan hati-hati, kemudian menatapnya dengan hati. 
Nara mengulurkan tangannya "Aku Nara", Melanie tertawa "Gausah aku si, lo gue aja kan lebih enak didengernya"

  

  





          Nara dengan tas yang bergambar kartun gajah, kaus kaki berwarna pink tua, dan prilakunya yang manja mencoba mengajukan pertanyaan kepada Melanie yang sedang Menyalakan Rokoknya "Kamu kok kaya gini sih?", "kalo gua kaya gini lo kaya gimana?" Saut Melanie. Nara sangat kaget bisa bertemu sosok yang bertolak belakang denganya "Kamu nyaman berpenampilan seperti ini?". "Beberapa hal ada yang gabisa lo nilai dengan sendiri, karna lo harus ngerasain dulu baru bisa menilai sesuatu" Jawab Melanie. Nara kebingungan dengan bahasa yang disampaikan Melanie "kenapa lo bingung ya? coba lo tanya ke lalat kenapa dia lebih suka sampah dari pada bunga, sedangkan kupu-kupu lebih menyukai bunga ketimbang sampah?" tanya Melanie. Nara mendapatkan pandangan baru setelah bertemu dengan Melanie, tapi ia tak semudah itu menelan opini Melanie, ia berusaha untuk diam dan mengkontradiksi opininya.

  

  

  








    

BAB III

          Semenjak berdebat dengan Melanie Nara mendapatkan sudut baru yang berbeda dengannya, Ia semakin penasaran dengan sosok Melanie. Keesokannya Nara menuju suatu warung kopi memesan segelas kopi hitam dan rokok kretek, sambil berbincang intrapersonal, "apakah lalat tak akan suka sari bunga meski dicekoki beratus kali?" pertanyaan yang hadir dalam kepalanya. Tiba-tiba Melanie mengagetkannya dari belakang "Woy, kesurupan apa lo ngerokok!". Nara spontan kaget " Apakah salah seorang pria mencoba untuk menjadi pria?", "Ya ga salah sih, terlepas dari semua itu lo harus paham ada yang lebih penting dari pada maskulinitas seorang pria, yaitu jadi diri sendiri" jawab Melanie, "Hah jadi diri sendiri?" Nara bingung dengan pernyataan Melanie, "iya jadi diri sendiri, untuk apa lo menuhin ekspektasi orang terus. kalo lo hidup untuk orang lain terus, terus siapa yang hidup untuk diri lo?" tegas Melanie.

  

  






          Nara sangat tertampar dengan perkataan Melanie, ia memaksakan ketidaknyamanannya menjadi seorang pria demi memenuhi standarisasi maskulinitas. "Jika aku merubah dirinya menjadi pria yang memenuhi standar maskulinitas umum dimasyarakat apakah membuat mereka puas? Tentunya tidak, Apakah aku harus menyukai musik metal untuk menjadi seorang pria? atau pulang pergi gym di akhir pekan? atau juga berprilaku gagah didepan khalayak?". Tiba-tiba ada nomer tak dikenal memberikan pesan singkat melalui SMS kepada Nara, pesan itu berbunyi "Menilai standar tentang gender seseorang tidak akan ada habisnya, seorang akan selalu berusaha mencari standar-standar baru seiring berkembangnya zaman. Setiap apa yang dilakukan pria secara umum akan dilabeli sebagai maskulinitas, dan apa yang dilakukan wanita secara umum akan dilabeli feminitas. Apabila di esok hari laki-laki sudah tidak suka olahraga, tidak mendengarkan musik cadas, tidak terlihat gagah apakah akan melunturkan maskulinitas nya?, semua tidak terasa adil sebab manusia bebas menentukan pilihannya sendiri, untuk apa menjadi orang lain?", Nara tak tahu jelasnya siapa yang telah memberikan pesan padanya, tetapi ia sungguh tertampar seusai membacanya. 

  

  







          Nara kembali bertemu Melanie di sebuah taman tempatnya pertama kali berjumpa, Nara mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya karena Melanie telah membuatnya menjadi manusia yang sejati. "Ayah gue pernah bilang, seorang pria gausah harus keliatan rebel biar dibilang pria, seorang pria mah cukup komitmen dan tanggung jawab", ucap Melanie, Nara pun tersenyum padanya "Siap bos, aku akan coba ngikutin kata mertua deh..", Nara meledeknya. Melanie pun berbunga-bunga atas gombalan Nara, Nara: "Tapi ga mungkin kamu mau sama aku si, aku aja kaya gini". Melanie menjawab "lo kaya gimana? lo kaya lo sendiri lah! gaperlu jadi orang lain, seorang yang menyukai lo akan menyukai lo walaupun lo buruk, dan seorang yang membenci lo juga gak akan percaya ketika lo menjadi baik".

   

    


   

 (Nara dan Melanie pun berciuman didalam riuhnya angin di Taman) 

  

  








Disclaimer :
     Sebelum ditemukan huruf kita membaca situasi, setelah ditemukan huruf kita membaca puisi. Firman harian bukan kalimat motivasi, bukan juga kalimat tersinggung. Sangat sulit mengklasifikasikan teks kepada manusia yang sering salah konteks. Teks ini saya buat tanpa ada niat untuk menyakiti, jika merasa terhina mungkin kepala yang berusaha menciptakannya.

Komentar